Minggu, 23 Juni 2013

PEKERJAAN & WAKTU LUANG DAN SELF-DIRECTED CHANGES



PEKERJAAN DAN WAKTU LUANG

1.Mengubah sikap Terhadap Pekerjaan
Nilai pekerjaan adalah bahwa nilai dari apa yang kita kerjakan sebenarnya sangat bergantung kepada cara berpikir kita terhadap pekerjaan itu. Sekecil apapun pekerjaan yang kita lakukan, jika kita memahami bahwa pekerjaan itu adalah bagian dari sebuah perencanaan besar, atau bahwa pekerjaan itu adalah proses menuju terwujudnya sesuatu yang besar, maka tidak akan ada lagi perasaan kecil dalam hati kita ketika mengerjakan pekerjaan itu.
1.1  Apa yang dicari dalam pekerjaan
Yang dicari dalam pekerjaan adalah dimana bagian dari sebuah perencanaan besar atau bahwa pekerjaan itu menuju proses terwujudnya suatu yang besar. Kalian mungkin berkata bahwa apa yang orang cari pada pekerjaan itu semuanya tergantung pada kemauan orang itu sendiri dan ada beberapa fakta mengenai ini. Tapi Daniel Yankelovich menemukan sebuah consensus yang berharga dari jawaban atas pertanyaan yang menyilang terhadap para pekerja termasuk kerah-bur dan kerah-putih dan para professional.
Dua frekuensi tertinggi memberikan respon “ kerja itu menarik” dan memiliki “ rekan kerja yang ramah tamah” dengan masing-masing responden memberikan 70% pendapat dari pada pekerja. Di ikuti dengan 2 tambahan jawaban dalam melakukan pekerjaan yang berarti disebut sebagai “kesempatan untuk menggunakan pikiran anda” dan “ hasil kerja yang anda bisa lihat”- memberikan 65-62% dari masing-masing pendapat para pekerja. Sementara upah yang bagus berada di urutan ke-5 dari peringkat “ yang diberikan oleh 62% pekerja). Pekerja berkerah-biru member banyak tekanan pada uang.
Dan para professional member sedikit tekanan pada uang, dengan pekerja berkerah-putih berada diantara keduanya. Hasil yang serupa ditemukan pada survey mahasiswa baru, pada kelas 8 ketika ditanya tingkat apa yang paling penting dalam kepuasan bekerja, 5 kriteria teratas secara menurun menajadi kegiatan yang menarik untuk dilakukan. Menggunakan keahlian dan kemampuan. Berpeluang bagus dalam periklanan, masa depan yang terjamin, dan hasil yang nyata.
Upah yang baik menempati urutan ke-8. Oenyda yang tidak kuliah memberikan respon yang serupa kecual mereka lebih memntingkan upah yang baik menempati posisi 8 (Bachman,Johnson,1979) Responden pada survey psikologi hari ini termasuk kebanyakan dewasa alwal dan pekerja berpendidikan membuat perbedaan yang tajam antara apa yang merka suka tentang pekerjaan mereka dan apa pemikiran yang paling penting mengenai pekerjaan secara umum. seperti yang di ditunjukkan pada table 9.1. Aspek yang paling memuaskan dalam bekerja seperti keramah tamahan sesame rekan kerja. Kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan pekerjaan, dan kehormatan yang diterima oleh rekan sepekerjaan. Di lain pihak, aspek yang paling penting dalam melakukan pekerjaan adalah berkaitan dengan pertumbuhan pribadi atau aktualisasi diri. Termasuk kesempatan untuk melakukan sesuatu yang membuat diri sendiri senang melakukannya.
Sesuatu yang berharga dan mempelajari hal yang baru. Aktualisasi ini lebih pentung daripada uang. Ketika responden tertekan pada kabar apapun mereka akan menerima pekerjaan berupah lebih tinggi yang mana kurang menarik. Hampir 2/3 responden mengatakan tidak rela. Di lain pihak, hampir setengah (46%) dari responden tidak akan menerima pekerjaan yang lebih menarik jika upahnya kurang dari pekerjaan yang mereka miliki saat ini. Bagaimanapun, hampir kebanyakan responden (41%) ihklas untuk melakukan pertukaran, mereka yang setidaknya ikhlas untuk memtong upahnya adalah wanita yang sudah bercerai (55%), pria yang sudah menikah (49%), Janda (47%) dan perempuan yang hidup dengan seseorang (47%) (Renvick, Lawler,1976).
1.2  Fungsi psikologi dalam pekerjaan
Fungsi psikologinya yaitu : Meskipun apa kata orang tentang memiliki peranan untuk hidup. Itu mungkin jelas sekarang bahwa setiap orang bekerja keras untuk uangnya sendiri. Survei membuktikan kebanyakan orang akan melanjutkan pekerjaanya bahkan jika mereka memiliki cukup uang untuk hidup nyaman seumur hidupnya (Renwick&Lawler,1978). Kenyataanya adalah bekerja itu meenuhi kebutuhan psikologis dan social yang penting. Rasa pemenuhan pribadi, orang membutuhkan perasaan kalau mereka tumbuh, mempelajarai keahlian baru, dan mencapai sesuatu yang berharga ketika perasaan ini kurang, mereka mungkin pindah ke pekerjaan yang menjanjikan pencapaian yang lebih atau hasil yang jelas.
Contohnya, seorang individu yang pekerjaanya terarah mungkin meninggalkan meja untuk bekerja menjual barang atau konstruksi. Bahkan orang yang sudah mendapatkan banyak uang tidak akan mau mengurangi waktu dan energy yang di habiskan oleh pekerjaan mereka.kemampuan karena kebutuhan akan penghargaan dan penguasaan (Morgan,1972).

2. Proses Dalam Memilih Pekerjaan
·         Tahap pertama adalah pada umur 15 - 22 tahun: Pada tahap ini, seseorang umumnya memilih jurusan, yang menurutnya baik dan ia suka. Apakah seseorang memilih jurusan tertentu oleh karena masalah imej jurusan tersebut- ini adalah salah satu faktor. Bisa juga ia memilih jurusan tertentu karena rekomendasi orang tua dan sisi ekonomi atau peluang kerja. Beragam alasan orang memilih jurusan tertentu di sekolah atau kampus.
·         Tahap kedua adalah pada umur 22 - 30 tahun: Pada fase ini, orang memilih karir sesuai dengan jurusan yang ia pelajari di kampus. Ia tertarik dengan pekerjaan barunya dan mulai menekuni apa yang ia pilih. Ini biasanya bisa terjadi sampai umur 30 tahun. Ada gairah terhadap pekerjaan apalagi kalau di perusahaan tempat ia bekerja ada suasana kondusif ditambah dengan jenjang karier yang jelas.
·         Tahap ketiga adalah pada umur 30 - 38 tahun: Bila seseorang menekuni pekerjaannya pada fase kedua, kinerjanya akan semakin baik pada phase ini. Kinerjanya umumnya di atas rata-rata. Gairah kerja semakin bertambah. Ia mungkin mencapai posisi manager dalam sebuah perusahaan pada phase ini. Karir semakin mantap dan bisa sampai menduduki posisi Vice President. Ini tergantung berapa bagus kinerjanya dan berapa baik budaya korporasi di perusahaan.
·         Tahap keempat adalah pada umur 38 - 45 tahun: Inilah tahapan atau fase yang tepat untuk memikirkan ulang pekerjaan yang seharusnya ditekuni. Pada phase ini biasanya orang mulai makin sadar akan pekerjaan yang seharusnya ia tekuni. Ini adalah fase yang kritis karena pada phase ini akan muncul pertanyaan, "Mau ke mana arah atau jalur karir yang akan ditempuh?" Pada fase ini persaingan ke posisi yang lebih tinggi semakin ketat. Peluang untuk naik ke posisi yang banyak membuat kebijakan strategis semakin kecil karena persaingan atau ada orang yang lebih hebat atau lebih cerdas dari Anda untuk menduduki posisi tersebut. Pada saat yang sama, Anda juga ingin merasakan keleluasaan untuk memberikan keputusan. Ada keinginan untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih besar bagi perusahaan atau organisasi yang akan menambah kepuasan diri juga; ada self-actualisation- meminjam istilah dari Abraham Maslow.
·         Tahap kelima adalah pada umur 45 - 55 tahun: Bila seseorang lolos pada fase ke empat, biasanya ia akan semakin mantap pada phase ini, khususnya mereka yang memilih karir atau menemukan pekerjaan yang cocok dengan bakat dan talenta pribadinya. Karirnya akan semakin bersinar. Ada kematangan baik dalam jiwa dan dalam pekerjaan. Ia semakin mengerti tujuan perusahaan. Ia makin mengerti relasi dari organisasi dengan masyarakat luas. Namun, pada fase ini juga orang akan mulai mengalami kebosanan di pekerjaan kalau salah mengambil keputusan pada tahap kelima. Jangankan di phase ini, pada phase keempat pun orang sudah mulai merasakan kebosanan dalam pekerjaan. Gairah kerja hilang karena tidak ada keputusan berarti yang bisa dilakukan bagi perusahaan.
·         Tahap keenam adalah umur 55 - 62 tahun: Orang-orang yang sukses melewati tahap ke empat dan kelima akan mengalami gairah kerja yang semakin bertambah pada fase ini. Kreatifitas muncul; ide-ide baru utuk memperbaiki organisasi melintas dalam pikiran. Vitalitas orang semakin bertambah dalam pekerjaan pada phase ini. 'Self-actualization' semakin matang dan mulai mempersiapkan diri utuk memasuki phase terakhir.
·         Tahap ketujuh adalah 62 - 70 tahun: Pada fase ini orang mulai memikirkan bagaimana meneruskan karir yang sudah dibangun atau perusahaan yang sudah dirintis dan berjalan. Ia mulai memikirkan siapa yang akan menggantikannya di kemudian hari. Bila Anda kebetulan pada fase ini, Anda sudah harus memikirkan bagaimana agar apa yang sudah dimulai dan dikerjakan bisa diteruskan dalam track yang benar oleh penerus Anda
3. Memilih Pekerjaan Yang Cocok
3.1 Karakteristik pribadi
Sebuah awal yang bagus adalah memilih ketertarikan apa yang kamu punya pada diri sendiri dan kemampuan. Kalian adalah sebuah gabungan unik dari sifat pribadi,ketertarikan,keahlian dan harga. Semakin baik yang kalian dapat ketahui mengenai diri kalian sendiri maka lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. Apa yang paling membuat anda tertarik. data atau sesuatu? pelajaran apa yang paling anda sukai di sekolah? Kegiatan Ekstrakurikuler apa yang anda sukai? Bagaimana dengan kerja paruh waktu? Coba temukan mengenai apa pekerjaan tersebut yang membuat mereka tertarik kepada anda. Apakah itu kegiatanya sendiri? Atau orang-orang didalamnya? Bagaimana dengan kemampuan anda? Apa pekerjaan terbaik yang anda bisa lakukan? yang paling anda kuasai? tidak peduli berapa banyak kemampuan yang anda miliki.
Penting untuk menyadari bahwa masing-masing dari kita berkualitas untuk banyak kedudukan yang berbeda.tidak hanya satu. Seperti olahraga athletic termasuk terbatas untuk sejumlah orang yang memiliki otot dan keahlian. Jadi kebanyakan pekerjaan memerlukan hanya beberapa keahlian spesifik atau karakteristik. Rahasianya terletak pada menemukan jenis pekerjaan yang memerlukan kekuatan tertentu yang anda miliki. Untuk memperluas kedua ketertarikan dan bakat kalian akan berubah dengan pengalaman dan waktu. Penelitian sudah menunjukkan kategori ketertarikan yang luas, seperti pada bidang obat-obatan. teknik atau bisnis, tetap stabil dari para remaja.(Campbell,1971). Jika kalian menyukai sesuatu pada saat anda belasan dan awal 20, kesempatan yang sama akan kalian sukai pada tahun-tahun selanjutnya.
Mungkin kalian pernah mendengar seseorang mengambil sebuah tes psikologi untuk membantu pemilihan karir. Sebenarnya, kebanyakan dari persediaan ketertarikan anda daripada sebuah test biasa. Saat ini, satu dari kebanyakan menggunakan instrument tes adalah Strong-Campbell Interest Inventory (SCII) yang mana menggabungkan banyak item dari versi awalnya Strong Inventory for males and females dengan menghilangkan item yang berdasarkan jenis kelamin. hasilnya, yang mana biasanya dibagi secara terbuka dengan individu, menunjukan bagaimana ketertarikan seorang individu dibandingkan dengan orang-orang lain yang memiliki kedudukan yang berbeda.
Apakah tes ketertarikan tersebut membantu anda membuat keputusan yang tepat pada pemilihan kerja? Semua tergantung dari bagaimana kita menggunakanya. Jika kalian mengandalkan hasil tersebut sebagai sebuah pengganti untuk membuat keputusan pribadi, maka jawabanya akan negative. Tapi jika kalian menggunakan hasil tersebut sebagai sebuah sumber untuk mengklarifikasi ketertarikan kalian dalam rangka untuk membuat sebuah keputusan,maka jawabanya pasti positif. Seperti halnya instrument yang menunjukan reliabilitas yang besar dalam memprediksi apa seorang individu akan bersikeras atau keluar dari bidang pekerjaan tersebut. Mereka tidak bisa memprediksi kesuksesan pada bidang yang diberikan karena kebanyak faktor subjektif terlibat didalamnya.
Tapi sudah temukan bahwa apa yang membuat berhasil biasanya mendemonstrasikan lebih tinggi daripada rata-rata skor ketertarikan, sementara siapa yang akan keluar nanti biasanya lebih rendah daripada rata-rata skor (Shertzer,1981).
3.2 karakteristik pekerjaan
Sekali anda memulai menjelajahi ketertarikan anda sendiri,kemampuan,dan nilai, kalian siap untuk mencari pekerjaan yang cocok dengan karakteristik pribadi anda. Dengan lebih dari 20.000 pekerjaan yang berbeda untuk dipilih,ini bukanlah tugas mudah. Untungnyam ada sumber buku untuk membati pencarian tersebut. Seperti yang banyak digunakan Dictionary of Occupational (DOT) dan Occupational Outlook Hand-book. Kedua buku direvisi secara teratur oleh pemerintah percetakan. Sebagai tambahan, berbagai macam pekerjaan sudah teratur pada dasar keluarga ataukelompok dari pekerjaan yang terkait. Masing-masing kelompok menunjukan tokoh 9-1 berisi ratusan pekerjaan yang terdekat.
Contohnya, bidang kesehatan termasuk sejumlah besar pekerja kesehatan-dokter, perawat, apoteker, dokter gigi, kebersihan gigi, hanya untuk beberapa nama. Ini sering membantu memilih 2 dari 3 pekerjaan kelompok yang kalian paling tertarikm dan mulai menelusuri beberapa pekerjaan spesifik pada kelompoknya. Sebuah perangkat yang membantu untuk menemukan pekerjaan yang paling cocok untuk kamu adalah John Holland’s Self Directied Search For Vocational Planning. Yang mana dapat dikelola sendiri. Ini berdasarkan dari kenyataan bahwa manusia di bidang pekerjaan yang samasering memiliki sifat yang mirip,ketertarikan dan kebiasaan dalam melakukan sesuatu. Holland (1973) menggambarkan 6 dari jenis kepribadian bersama dengan lingkungan kerja mereka yang baik.
Setelah mencocokan sejumlah kegiatan,ketertarikan dan perkiraan kemampuan anda sendiri, kalian menjumblahkan item untuk menemukan 3 jenis kepribadian yang paling menyerupai.kemudian pada pekerjaan yang terpisah penemu buklet, kalian mencocokan berbagai jenis kepribadian digabungkan dengan beberapa pekerjaan yang cocok. O’connel dan Sedlacek (1972) sudah menemukan Self-Directed search lebih handal dan sedikit membantu untuk perencanaan ketertarikan jurusan.
4. Waktu Luang

Bagaimana menggunakan waktu secara positif?
Waktu adalah satu-satunya modal yang dimiliki oleh manusia, dan ia tidak boleh sampai kehilangan waktu. – Thomas A. Edison
Meluangkan waktu itu ternyata penting dan banyak cara/kegiatan positif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Misalnya olahraga, jalan-jalan, melakukan hobby, atau ngeblog. Selain itu, mengisi waktu luang setelah kesibukan yang mendera ibarat bayaran dari pekerjaan itu sendiri. Kita tidak pernah menduga kalau kegiatan yang dilakukan di saat waktu luang bisa juga menghasilkan atau mendapat penghargaan. Siapa yang tahu kalau suatu saat nanti, kegiatan yang dilakukan di waktu luang, bisa menjadi penghasilan terbesar. Dan bagaimana kita bisa punya waktu luang di sela-sela kesibukan dengan mengaturnya sebaik mungkin? Berikut ini tips dan triknya:
·         Jangan pernah terjebak dgn waktu. Bukan waktu yg mengatur kita, tapi kitalah yang mengatur waktu.
·         Coba sesuatu yang baru yang tidak menyita waktu kerja. Misalnya dengan menulis di smartphone yang kita miliki
·         Tentukan prioritas. Dengan prioritas bisa diketahui mana yang mendesak, mana yang kurang. Tanpa prioritas, waktu terbuang percuma.
·         Buat yang super sibuk, buatlah agenda yang harus ditaati. Masukkan waktu bekerja, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk diri sendiri.
·         Pastikan dalam agenda, 50 persen waktu yang dilakukan adalah untuk kegiatan positif atau produktif.
·         Jangan melakukan pekerjaan/hal yang lain sebelum menuntaskan pekerjaan yang lebih dulu dilakukan. Yang ada keduanya berantakan!
·         Jika tidak berhubungan dgn pekerjaan, jauhkan diri dari sosial media, hingga pekerjaan tuntas diselesaikan.

Menggunakan waktu dengan bijak, maka tidak ada istilah tidak punya waktu luang! Tidak ada waktu yang terbuang percuma. Kuncinya terletak bukan pada bagaimana Anda menghabiskan waktu, namun dalam menginvestasikan waktu Anda. Melakukan dua hal bersamaan sama artinya dengan tidak melakukan sesuatu. - Stephen R. Covey. Jika merasa jenuh dengan waktu yang telah dihabiskan, ubah kebiasaan itu. Manfaatkanlah waktu luang.


SELF-DIRECTED CHANGES

A. Konsep dan Penerapan Self-directed changes: Mahasiswa mengetahui dan termotivasi untuk melakukan perubahan pribadi dengan melalui tahapan:

1.      Meningkatkan kontrol diri
Mendasarkan diri pada kesadaran bahwa pada setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan kondisi yang dimiliki setiap manusia. Itu dapat terjadi sebagai akibat perubahan dalam struktur kognitif yang dihasilkan oleh perubahan struktur kognitif itu sendiri atau perubahan kebutuhan juga adanya motivasi internal serta belajar yang efektif.
2.      Menetapkan tujuan
Dimaksudkan untuk menjaga individu agar tetap tertuju pada proses pembelajaran, dalam arti dapat mengetahui dan mampu secara mandiri menetapkan mengenai apa yang ingin dipelajari dalam mencapai kesehatan mental, serta tahu akan kemana tujuan hidupnya, cakap dalam mengambil keputusan dan mampu berpartisipasi di masyarakat dan akan mampu mengarahkan dirinya.
3.      Pencatatan perilaku
Menguatkan perilaku ulang kalau individu merasa bisa mengambil manfaat dari perilaku yang pernah dilakukan sebelumnya, kemungkinan lain yang bisa menjadikan seseorang mengulang perilaku sebelumnya karena merasa senang dengan apa yang pernah dilakukan.
4.      Menyaring anteseden perilaku
Bisa membagi perilaku sasaran ke dalam perubahan, serta membantu individu agar lebih siap dalam mempelajari perilaku tersebut. Pemahaman akan anteseden perilaku membantu individu agar dapat dengan tepat memilih nilai-nilai dan merencanakan strategi.
5.      Menyusun konsekuensi yang efektif
Pemahaman dalam arti sehat mental dapat menentukan perubahan pada individu dalam melakukan mobilitas untuk melakukan segala sesuatu aktifitas –aktifitas yang dilakukan oleh manusia, dalam menanggapi stimulus lingkungan, yang meliputi aktivitas motoris, emosional,dan kognitif dalam mencapai kematangan mental.
6.      Menerapkan perencana intervensi
Membawa perubahan, tentunya pada perubahan yang lebih baik. Dalam arti pemahaman nilai-nilai, karakter / watak, dan cara cara berperilaku secara individual. Dalam arti kita harus lebih memahami cara berperilaku pada kegiatan proses pembentukan watak dan pembelajaran secara terencana.
7.      Evaluasi
Faktor yang penting untuk mencapai kematangan pribadi, sedangkan salah satu faktor penting untuk mengetahui keefektivan adalah evaluasi baik terhadap proses maupun hasil pembelajaran.

Sumber:

Sabtu, 01 Juni 2013

hubungan interpersonal & cinta dan perkawinan


HUBUNGAN INTERPERSONAL

a. Model-model Hubungan Interpersonal
Model pertukaran sosial atau biasa dikenal istilah social exchange model biasanya mengidentikkan hubungan interpersonal dengan suatu transaksi dagang (tawar menawar). Selain itu pertukaran sosial juga membuat kita yang sedang berkomunikasi tidak sadar bahwa kita sedang mempertukarkan pengalaman masing-masing. Dan dalam hal ini banyak dari kita yang berkomunikasi menjadi puas karena dari pengalaman berkomunikasi, banyak sekali pertanyaan yang secara langsung maupun tidak langsung telah dijawab dari berbagai pertukaran pengalaman(Liliweri, 1991:69).
Komunikasi secara transaksional tersebut biasanya berlangsung secara simultan dan spontan(Mulyana, 2005:68). Hal tersebut biasanya terjadi dalam kehidupan sehari-harikita dan kita seringkali tidak sadar. Misalnya saja: saat mendengar teman baik kita curhat karena ada masalah, kita merespon dengan menggangukkan kepala pertanda mengerti apa yang ia rasakan dan sesekali memeluknya ketika ia mulai terisak.
Yang kedua, model peranan atau yang disebut dengan role model. Dalam model ini hubungan interpersonal dianalogikan seperti sebuah sandiwara. Jadi, dalam setiap hubungan individu memiliki perannya masing-masing sesuai dengan ekspektasi peranannya (role expectation) dan tuntutan peranan (role demands). Contoh sederhananya misalnya saya adalah ayah. Dalam keluarga peran ayah adalah pemimpin keluarga, ia adalah bapak dari anak-anaknya, dan suami dari istrinya, sedangkan didalam masyarakat ia adalah anggota masyarakat yang harus patuh dan tunduk dalam aturan masyarakat, sedangkan dalam dunia pekerjaannya ia adalah seorang ahli yang paham dengan apa yang ia jalani sebagai profesinya.
Yang ketiga, adalah model permainan yang menggunakan pendekatan analisis transaksional. teori analisis transaksional telah menjadi salah satu teori komunikasi antarpribadi yang mendasar. dalam analisis transaksional adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interpersonal. Dalam diri setiap manusia , menurut Collins, manusia mempunyai tiga status ego. Sikap dasar ego yang mengacu pada sikap orangtua (Parent=P, exteropsychic); sikap orang dewasa (Adult=A, neopsychic); dan ego anak (Child=C, arheopsychic). ketiga sikap tersebut dimiliki setiap orang disegala usia.Contoh sederhana yang bisa diambil misalnya adalah anak bungsu. Anak bungsu didalam keluarga cenderung manja dan kekanak-kanakan akan tetapi jika ada ditengah-tengah teman sepermainan ia akan bisa memiliki sifat orang dewasa yang bisa menjadi sangat pragmatis dan realistis, sebaliknya jika ada sidepan pasangannya ia akan menjadi sifat orangtua yang bisa menuntun, memahami dan menyayangi.
Yang terakhir adalah model interaksional atau bisa juga disebut dengan interactional role. dalam model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Transaksi disini dalam komunikasi kemudian disetarakan artinya sebagai suatu proses sebab akibat atau aksi reaksi (Mulyana, 2005:65). contoh sederhananya adalah ketika kita dipanggil ibu kita, kita kemudian menyahut dengan kata "Dalem" dan menghampirinya, itu merupakan suatu bentuk dan tindakan dari komunikasi interpersonal.

b. Memulai Hubungan
Adapun tahap-tahap untuk menjalin hubungan interpersonal, yaitu:
1. Pembentukan
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya. Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu: a) informasi demografis; b) sikap dan pendapat (tentang orang atau objek); c) rencana yang akan datang; d)kepribadian; e) perilaku pada masa lalu; f) orang lain; serta g) hobi dan minat.
2. Peneguhan Hubungan
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu: a) keakraban; b) kontrol; c) respon yang tepat; dan d) nada emosional yang tepat. Keakraban merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan interpersonal akan terperlihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat keakraban yang diperlukan.
Faktor kedua adalah kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Jika dua orang mempunyai pendapat yang berbeda sebelum mengambil kesimpulan, siapakah yang harus berbicara lebih banyak, siapa yang menentukan, dan siapakah yang dominan. Konflik terjadi umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak yang mau mengalah.
Faktor ketiga adalah ketepatan respon. Dimana, respon A harus diikuti oleh respon yang sesuai dari B. Dalam percakapan misalnya, pertanyaan harus disambut dengan jawaban, lelucon dengan tertawa, permintaan keterangan dengan penjelasan.
Respon ini bukan saja berkenaan dengan pesan-pesan verbal, tetapi juga pesan-pesan nonverbal. Jika pembicaraan yang serius dijawab dengan main-main, ungkapan wajah yang bersungguh-sungguh diterima dengan air muka yang menunjukkan sikap tidak percaya, maka hubungan interpersonal mengalami keretakan. Ini berarti kita sudah memberikan respon yang tidak tepat. Faktor terakhir yang dapat memelihara hubungan interpersonal adalah keserasian suasana emosional ketika komunikasi sedang berlangsung. Walaupun mungkin saja terjadi interaksi antara dua orang dengan suasana emosional yang berbeda, tetapi interaksi itu tidak akan stabil. Besar kemungkinan salah satu pihak akan mengakhiri interaksi atau mengubah suasana emosi.
c. Hubungan Peran

  • Model peran

menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya

  • Model Interaksional

Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan. Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari sistem terganggu, segera akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.

  • Pemutusan Hubungan

Menurut R.D. Nye dalam bukunya yang berjudul Conflict Among Humans, setidaknya ada lima sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan, yaitu:
a. Kompetisi, dimana salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain. Misalnya, menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan orang lain.
b. Dominasi, dimana salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang tersebut merasakan hak-haknya dilanggar.
c. Kegagalan, dimana masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai.
d. Provokasi, dimana salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan yang lain.
e. Perbedaan nilai, dimana kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
Jenis Hubungan Interpersonal
Terdapat beberapa jenis hubungan interpersonal, yaitu: a) berdasarkan jumlah individu yang terlibat; b) berdasarkan tujuan yang ingin dicapai; c) berdasarkan jangka waktu; serta d) berdasarkan tingkat kedalaman atau keintiman.
Hubungan interpersonal berdasarkan jumlah individu yang terlibat, dibagi menjadi 2, yaitu hubungan diad dan hubungan triad. Hubungan diad merupakan hubungan atara dua individu. Kebanyakan hubungan kita dengan orang lain bersifat diadik. William Wilmot mengemukakan beberapa ciri khas hubungan diad, dimana setiap hubungan diad memiliki tujuan khusus, individu dalam hubungan diad menampilkan wajah yang berbeda dengan ‘wajah’ yang ditampilkannya dalam hubungan diad yang lain, dan pada hubungan diad berkembang pola komunikasi (termasuk pola berbahasa) yang unik/ khas yang akan membedakan hubungan tersebut dengan hubungan diad yang lain.
Sedangkan hubungan triad merupakan hubungan antara tiga orang. Hubungan triad ini memiliki ciri lebih kompleks, tingkat keintiman/ kedekatan anatar individu lebih rendah, dan keputusan yang diambil lebih didasarkan voting atau suara terbanyak (dalam hubungan diad, keputusan diambil melalui negosiasi). Hubungan interpersonal berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, dibagi menjadi 2, yaitu hubungan tugas dan hubungan sosial. Hubungan tugas merupakan sebuah hubungan yang terbentuk karena tujuan menyelesaikan sesuatu yang tidak dokter, hubungan mahasiswa dalam kelompok untuk mengerjakan tugas, dan lainlain.
Sedangkan hubungan sosial merupakan hubungan yang tidak terbentuk dengan tujuan untuk menyelesaikan sesuatu. Hubungan ini terbentuk (baik secara personal dan sosial). Sebagai contoh adalah hubungan dua sahabat dekat, hubungan dua orang kenalan saat makan siang dan sebagianya. Hubungan interpersonal berdasarkan jangka waktu juga dibagi menjadi 2, yaitu hubungan jangka pendek dan hubungan jangka panjang.
Hubungan jangka pendek merupakan hubungan yang hanya berlangsung sebentar. Misalnya hubungan antara dua orang yang saling menyapa ketika bertemu di jalan. Sedangkan hubungan jangka panjang berlangsung dalam waktu yang lama. Semakin lama suatu hubungan semakin banyak investasi yang ditanam didalamnya (misalnya berupa emosi atau perasaaan, materi, waktu, komitmen dan sebagainya). Dan karena investasi yang ditanam itu banyak maka semakin besar usaha kita untuk mempertahankannya.
Selain ketiga jenis hubungan interpersonal yang sudah dijelaskan di atas, masih terdapat satu lagi jenis hubungan interpersonal yang didasarkan atas tingkat kedalaman atau keintiman, yaitu hubungan biasa dan hubungan akrab atau intim. Hubungan biasa merupakan hubungan yang sama sekali tidak dalam atau impersonal atau ritual. Sedangkan hubungan akrab atau intim ditandai dengan penyingkapan diri (self-disclosure). Makin intim suatu hubungan, makin besar kemungkinan terjadinya penyingkapan diri tentang hal-hal yang sifatnya pribadi. Hubungan intim terkait dengan jangka waktu, dimana keintiman akan tumbuh pada jangka panjang. Karena itu hubungan intim akan cenderung dipertahankan karena investasi yang ditanamkan individu di dalamnya dalam jangka waktu yang lama telah banyak. Hubungan ini bersifat personal dan terbebas dari hal-hal yang ritual.

Faktor Yang Mempengaruhi Hubungan Interpersonal Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi hubungan interpersonal, yaitu:
1. Komunikasi efektif
Komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan antara pemangku kepentingan terbangun dalam situasi komunikatif-interaktif dan informasi yang disampaikan dan keterlibatan dalam memformulasikan ide atau gagasan secara bersama. Bila berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan pandangan akan membuat gembira, suka dan nyaman. Sebaliknya bila berkumpul dengan orang atau kelompok yang benci akan membuat tegang, resah dan tidak enak.
2. Ekspresi wajah
Ekspresi wajah menimbulkan kesan dan persepsi yang sangat menentukan penerimaan individu atau kelompok. Senyuman yang dilontarkan akan menunjukkan ungkapan bahagia, mata melotot sebagai kemarahan dan seterusnya. Wajah telah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal. Wajah merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam menyampaikan makna dalam beberapa detik raut wajah akan menentukan dan menggerakkan keputusan yang diambil. Kepekaan menangkap emosi wajah sangat menentukan kecermatan tindakan yang akan diambil.
3. Kepribadian
Kepribadian sangat menentukan bentuk hubungan yang akan terjalin. Kepribadian mengekspresikan pengalaman subjektif seperti kebiasaan, karakter dan perilaku. Faktor kepribadian lebih mengarah pada bagaimana tanggapan dan respon yang akan diberikan sehingga terjadi hubungan. Tindakan dan tanggapan terhadap pesan sangat tergantung pada pola hubungan pribadi dan karakteritik atau sifat yang dibawanya.
4. Stereotyping
Stereotyping merupakan cara yang banyak ditemukan dalam menilai orang lain yang dinisbatkan pada katagorisasi tertentu. Cara pandang ini kebanyakan menimbulkan prasangka dan gesekan yang cukup kuat, terutama pada saat pihak-pihak yang berkonflik sulit membuka jalan untuk melakukan perbaikan. Individu atau kelompok akan merespon pengalaman dan lingkungan dengan cara memperlakukan anggota masyarakat secara berbeda atau cenderung melakukan pengelompokan menurut jenis kelamin, cerdas, bodoh, rajin, atau malas.
Penggunaan cara ini untuk menyederhanakan begitu banyak stimuli yang diterimanya dan merupakan pengkatagorian pengalaman untuk memperoleh informasi tambahan dengan segera. Manusia selalu berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya atau kita cenderung menyukai orang lain, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan kita, dan jika menyukai orang, kita ingin memilih sikap mereka yang sama. Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, norma, aturan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tingkat sosial ekonomi, budaya, agama, ideologis, cenderung saling menyukai dan menerima keberadaan masing-masing.
5. Daya tarik
Dalam hukum daya tarik dapat dijelaskan bahwa cara pandang orang lain terhadap diri individu akan dibentuk melalui cara berfikir, bahasa dan tindakan yang khas. Orang pintar, pandai bergaul, ganteng atau cantik akan cenderung ditanggapi dan dinilai dengan cara yang menyenangkan dan dianggap memiliki sifat yang baik. Meskipun apa yang disebut gagah, cantik atau pandai bergaul belum disepakati, namun sebagian relatif menerima orang sebagai pandai cantik atau gagah.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa daya tarik seseorang baik fisik maupun karakter sering menjadi penyebab tanggapan dan penerimaan personal. Orang-orang yang memiliki daya tarik cederung akan disikapi dan diperlakukan lebih baik, sopan dan efektif untuk mempengaruhi pendapat orang lain.
6. Ganjaran
Seseorang lebih menyenangi orang lain yang memberi penghargaan atau ganjaran berupa pujian, bantuan, dorongan moral. Kita akan menyukai orang yang menyukai dan memuji kita. Interaksi sosial ibaratnya transaksi dagang, dimana seseorang akan melanjutkan interaksi bila laba lebih banyak dari biaya. Bila pergaulan seorang pendamping masyarakat dengan orang-orang disekitarnya sangat menyenangkan, maka akan sangat menguntungkan ditinjau dari keberhasilan program, menguntungkan secara ekonomis, psikologis dan sosial.
7. Kompetensi
Setiap orang memiliki kecenderungan atau tertarik kepada orang lain karena prestasi atau kemampuan yang ditunjukkannya. Masyarakat akan cenderung menanggapi informasi dan pesan dari orang berpengalaman, ahli dan mampu memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi. Dalam situasi krisis, para pihak yang berkonflik membutuhkan bantuan teknis dan bimbingan dari individu yang dipercaya dan mampu menumbuhkan kerjasama untuk mendorong penyelesaian.

d. Intimasi dan Hubungan Pribadi
Secara harfiah intimasi dapat diartikan sebagai kedekatan atau keakraban dengan orang lain. Intimasi dalam pengertian yang lebih luas telah banyak dikemukan oleh para ahli. Shadily dan Echols (1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan. Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Kemudian, Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
Intimasi menurut Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada tahap ini akan terbentuk perasaan atau keinginan untuk menyayangi, memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap hal-hal tertentu yang terjadi pada orang yang dekat dengannya.
Atwater (1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada suatu hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang diakibatkan oleh persatuan yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang terdalam. Intimasi semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh makna untuk mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan memperkuat ikatan yang telah terjalin.
Hal tersebut dapat terwujud melalui saling berbagi dan membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001). Selain itu dalam proses intimasi perlu untuk memasukkan unsur perasaan bersatu dengan orang lain. Kebutuhan untuk bersatu dengan orang lain merupakan pendorong yang sangat kuat bagi individu untuk membentuk suatu hubungan yang kuat, stabil, dekat dan terpelihara dengan baik (Papalia dkk, 2001).
Kedekatan perasaan seperti ini dapat menimbulkan suatu hubungan yang erat dimana hubungan ini sebagai lambang dari empati (Parrot dan Parrot, 1999). Berdasarkan beberapa pengertian intimasi di atas, dapat disimpulkan bahwa intimasi adalah suatu hubungan interpersonal yang berkembang dari hubungan timbal balik antara dua individu, yang terwujud melalui saling berbagi perasaan dan pikiran yang terdalam, saling membuka diri, serta saling menerima dan menghormati satu sama lain.

e. Intimasi dan Pertumbuhan
Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Kemudian, Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
Faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal uang baik berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan. faktor kedua yang menumbuhkan sikap percaya pada diri orang lain.Kejujuran, faktor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya.sikap yang mengurangi sikap defensive dalam komunikasi.amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif.Teori-teori tentang efek komunikasi yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula hypodermic needle theory, teori ini mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa.
Teori peluru yang dikemukakan Wilbur Schramm pada tahun 1950-an ini kemudian dicabut pada tahun 1970-an dan meminta kepada para pendukungnya yang menganggap teori ini tidak ada. Sebab khalayak yang menjadi sasaran media ini ternyata tidak pasif. Kemudian muncul teori model atau model efek terbatas, Hovland mengatakan bahwa pesan komunikan efectif dalam menyebarkan informasi, bukan dalam mengubah perilaku. Penelitian Cooper dan Jahoda pun menunjukan bahwa persepsi selektif dapat mengurangi efektifitas sebuah pesan.Contoh : seorang gadis berjalan lenggak-lenggok seperti pragawati dan banyak pria terpana padanya sampai-sampai tak berkedip, itu merupakan pola S – R. Proses ini merupakan bentuk pertukaran informasi yang dapat menimbulkan efek untuk mengubah tindakan komunikasi (communication act). Model S – R mengasumsikan bahwa perilaku individu karena kekuatan stimulus yang dating dari luar dirinya, bukan atas dasar motif dan sikap yang dimiliki.


CINTA DAN PERKAWINAN

a. Memilih Pasangan
Memiliki kriteria pasangan itu penting. Tapi jangan sampe anda menjadi pemilih. Pasalnya, hal itu hanya akan menyusahkan anda mendapatkan jodoh. ya, memilih pasangan memang diharuskan. Namun saat anda menjadi pemilih, justru akan menjadi bumerang tersendiri. Berikut yang harus anda perhatikan saat melihat seseorang untuk dijadikan pasangan seperti dilansir Idiva. 
Materi: Kebanyakan wanita memilih pria yang lebih berhasil dari mereka. Tapi justru yang didapat sebaliknya. Yang terpenting sebenarnya dia mampu memenuhi kebutuhan dasar dan bisa bertanggung jawab.
Penampilan: Siapa yang tidak suka dengan pria tampan. Ya, semua wanita tentu saja mendambakannya. Tapi pria dengan tampilan menarik belum tentu punya sifat yang baik. Jadi jangan melihat dari penampilan luar saja, tapi juga kepribadiannya.
Tidak bisa menyesuaikan: Mungkin saja, anda takut dengan perbedaan. Namun, perlu diketahui bahwa setiap manusia dilahirkan tidak sama. Jadi bersikaplan fleksibel untuk menerima apa adanya.

b. Hubungan dalam Perkawinan
Draw J. Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan juga marriage and relationship educator and coach, dia mengatakan bahwa ada lima tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan. Hubungan dalam pernikahan bisa berkembang dalam tahapan yang bisa diduga sebelumnya. Namun perubahan darisatu tahap ke tahap berikutnya memang tidak terjadi secara mencolok dan tak memiliki patokan batas waktu yang pasti. Bisa jadi antara pasangan suami-istri, yang satu dengan yang lain, memiliki waktu berbeda saat menghadapi dan melalui tahapannya. Namun anda dan pasangan dapat saling merasakannya.
Tahap pertama: Romantic Love. Saat ini adalah saat anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. ini terjadi di saat bulan madu pernikahan. Anda dan pasangan pda tahap ini selalu melakukan kegiatan bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta.
Tahap kedua: Dissapointmentor Distress. Masih menurut Draw, ditahap ini pasangan suami-istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangan.Terkadang salah satu dari pasanganyang mengalami hal ini berusaha untuk mengalihkan perasaan stress yang memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang lain, mencurahkan perhatian ke pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai dengan minat dan kebutuhan masing-masing. Menurut Draw tahapan ini bisa membawa pasangan suami-istri ke situasi yang tak tertahankan lagi terhadap hubungan dengan pasangannya. Banyak pasangan ditahap ini memilih berpisah dengan pasangannya.
Tahap ketiga: Knowlegde and Awareness. Dawn mengungkapkan bahwa pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk  menggali informasi tentang bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Menurut Dawn juga, pasangan yang sampai di tahap ini biasanya senang untuk meminta kiat-kiat kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti seminar-seminar dan konsultasi perkawinan.
Tahap keempat: Transformation. Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku  yang berkenan di hati pasangannya. Anda akan membuktikan untuk menjadi pasangan yang tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini sudah berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam mensikapi perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang nyaman dan tentram.
Tahap kelima: Real Love. “Anda berdua akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan,” ujar Dawn.  Psikoterapis ini menjelaskan pula bahwa waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri seolah digunakan untuk saling memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dan pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat Dawn.

c. Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.
Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.

d. Perceraian dan Pernikahan Kembali
Kelanggengan hubungan dalam pernikahan adalah keinginan setiap pasangan. Namun bagaimanakah jika pernikahan itu tidak langgeng dan justru akan mengakibatkan perceraian?…Baiklah, dalam hal ini bisa dikatakan perceraian itu tidak hanya terjadi begitu saja. Setiap akibat pasti ada penyebabnya, tak mungkin ada asap tanpa api. Itulah sedikit ungkapan peribahasa sebagai perumpamaannya. Berbicara tentang perceraian bisa dikaitkan dengan daya tarik spontan. Jika Anda tertarik kepada seseorang hanya karena kelembutannya, ketulusannya, karena simpatinya terhadap Anda, atau karena menjaga perasaan maka hubungan itu tidak bisa bertahan lama. Hubungan semacam itu tidak bisa langgeng, sebentar saja pasti akan hancur. Bahkan seandainya pernikahan semacam itu sukses, maka pasangan Anda tidak bisa membaur dengan persepsi-persepsi Anda yang paling dalam ketika Anda berdua saling melihat pasangan sebagai manusia yang sebenarnya. Kelanggengan terlihat dari bagaimana seseorang memperhatikan sikap dan ketulusan pasangannya. Selain itu juga harus memperhatikan kesetiaannya terhadap nilai-nilai bersama. Dan harus selalu sadar bahwa rasa tertarik, harus berasal dari kedua belah pihak, bukan dari satu pihak saja.
Penyebab perceraian kebanyakan terjadi karena didalamnya terselip berbagai persoalan rumah tangga yang tidak menemukan akhir penyelesaiannya. Dibutuhkan kekompakkan antara keduanya dalam menghadapi berbagai persoalan itu. Pengertian…itulah hal yang seharusnya bisa mereka tanamkan, karena jika minimnya sikap saling perngertian keegoisan memuncak. Jika keegoisan diiringi dengan kemarahan yang membara, perlu juga kesabaran. Tidak diperkenankan keduanya saling mengadu amarahnya. Justru jika misalnya istri lebih sensitif dengan menunjukkan kemarahannya, maka suami harus lebih mampu meredam amarahnya. Sehingga konflik yang sedang terjadi tidak semakin besar. Tidak menutup kemungkinan juga, konflik yang pada akhirnya menimbulkan perceraian itu bisa terjadi karena adanya pihak ketiga yang dengan sengaja menyebarkan kesalahpahaman diantara pasangan tersebut.
Memilih sisi positif berarti memilih cara paling efektif dan efisien daladm hidup. Seharusnya pada kedalaman diri kita, terdapat keseimbangan dua rasa yang saling berlawanan ketika hubungan yang mesra itu berada dalam ujian. Pertama-tama memang sekelompok perasaan tertentu yang mendominasi. Tetapi sekelompk rasa yang lainnya tidak lagnsung mundur diri. Ia tetap ada walau terpaksa mundur dan sembunyi di pojok gelap untuk menuggu kesempatan. Suami-istri menjalankan tugas dan peran masing-masing dengan cepat. Keduanya akan merasa lemah ketika tidak bisa mencari jalan keluar dari sisi-sisi negatif.
Mereka merasa bahwa jiwanya adalah karikatur kepribadiannya dalam kehidupan rumah tangga. Jika semua orang memikirkan apa saja yang menyenangkan pasangannya lalu meninggalkan apa yang tidak mereka senangi, tentu saja hubungan keluarga tidak akan hancur. Namun, berbeda jika pasangan telah menemukan jalan keluar dari perosalan yang mereka hadapi. Mereka akan cenderung introspeksi diri dengan perbuatan dan kesalahan-kesalahannya sehingga menyadarkan dirinya bahwa masalah itu tidak sepenuhnya selesai dengan kemarahan dan kesalahan satu pihak saja. Yang pada akhirnya pasangan yang telah bercerai tersebut bisa memulai hidup yang baru dengan menikah kembali dengan pasangannya.

e. Alternatif selain Pernikahan
Mengapa ada pernikahan?…karena kita ingin terikat dengan individu lain agar hidup kita lebih dalam dan bermakna daripada cara hidup independen dan bebas yang pernah kita jalani. Namun ada juga beberapa orang yang memutuskan untuk tidak memiliki pasangan. Mungkin mereka beranggapan bahwa ketika kehidupan itu kita jalani dengan pasangan akan terasa sulit karena menemukan berbagai persoalan yang nantinya kemungkinan bisa saja kita hadapi. Akan tetapi hakikatnya menikah itu adalah ibadah. Hidup akan lebih indah melalui segala bentuk kehidupan bersama pasangan. Seseorang yang memutuskan untuk sendiri (single life) bisa saja disebabkan karena traumatik tersendiri yang pernah mereka rasakan sehingga membuatnya untuk tidak berani lagi memulai hidup secara bersama. Pengalaman memang berperan penting dalam kelangsungan hidup seseorang. Ia bisa mengubahnya menjadi lebih kuat namun tidak sedikit yang lemah karenanya. Membuat seseorang takut memulai, namun juga menimbulkan arti yang mendalam.
“Pernikahan yang sukses adalah seperti tenunan dalam beludru kehidupan praktis. Seperti nada harmoni yang dipetik hubungan realistis. Dan pernikahan yang sukses adalah hasil gabungan cinta, penghormatan, kesetiaan, dan sikap saling mendukung”.

sumber:
http://brieghie.wordpress.com/2010/09/21/model-hubungan-komunikasi-interpersonal/
http://rizkacil.wordpress.com/
http://lifestyle.okezone.com/read/2013/03/28/197/783167/memilih-pasangan-penting-tapi
http://hendriyana.abatasa.co.id/post/detail/20976/tips-oke-memilih-pasangan-hidup-menurut-islam.html
http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/keluarga/psikologi/lima.tahap.dalam.perkawinan/001/007/140/1/1
http://21juli1991.blogspot.com/2013/05/cinta-dan-perkawinan.html
http://khayeoja.blogspot.com/2012/04/cinta-dan-perkawinan.html
http://putrislanky.blogspot.com/

Sabtu, 27 April 2013

FENOMENA IKLAN PADA MASYARAKAT


FENOMENA IKLAN PADA MASYARAKAT

Berbagai aspek Psikologi Sosial dapat diperiksa di dalam konsep luas kecerdasan, jenis kelamin, iklan, konsumen budaya, stres dan masalah psikologis yang mendefinisikan masyarakat. Menimbang perilaku konsumen,  psikologi sosial menggunakan teori-teori untuk menjelaskan konsumsi meyakinkan adiktif, pengaruh iklan dan fenomena pembelian. Periklanan dipandang sebagai manipulasi psikologi halus seperti menciptakan keinginan dan kecemasan dalam konsumen potensial (Papers4you.com, 2006). Iklan dapat memiliki kedua aspek psikologis dan komersial termasuk misattribution, bias, sugesti, dan dapat dipelajari dari perspektif global atau lokal.

Konsumsi organisasi dipandang sebagai berbeda dari konsumsi individu generik meskipun teori-teori psikologi motivasi manusia seperti yang Maslow dan Freud bisa menjelaskan perilaku konsumen. Namun perilaku konsumen juga dapat dipelajari dalam hal pengertian kualitas dan hubungannya dengan kepuasan pelanggan (Silva et al, 2005). Langkah-langkah objektif dari kebutuhan pelanggan, harga dan ekspektasi dari pelanggan mungkin harus dianalisis dalam model Service Quality atau Harapan. Hogg dan Garrow (2003) disorot pada aspek-aspek psikologis gender dan pengaruh pada konsumsi iklan.

Iklan telah ditemukan untuk diproses dan ditafsirkan secara berbeda menurut gender dan persepsi skema. Hal ini pada gilirannya akan berhubungan dengan teori-teori psikologi gender seperti teori determinisme biologis, teori Freudian pengembangan kepribadian teori, kognitif-perkembangan, dan teori-teori feminis. Menjembatani kesenjangan antara studi gender dan perbedaan gender dalam konsumsi dapat memberikan kita wawasan baru pada aspek sosial dan psikologis dari perilaku konsumen. Orth (2005) menunjukkan bahwa perilaku konsumen sangat tergantung pada kepribadian konsumen dan kerentanan terhadap interpersonal, pengaruh disposisi situasional konsumen seperti mengambil risiko dan rasa ingin tahu, perilaku pembelian dan frekuensi pembelian dan variabel-variabel demografis seperti usia dan jenis kelamin.

Budaya konsumen kontemporer dapat dipelajari dalam kaitannya dengan penekanan yang berlebihan pada keindahan dan penampilan dan obsesi pemuda, sebuah fenomena yang telah melihat peningkatan ketergantungan pada bedah kosmetik. Pentingnya peningkatan tubuh dalam budaya konsumen dapat dipelajari bersama dengan pentingnya penampilan dalam masyarakat modern, peran pemasaran dan gambar iklan, dan kebutuhan psikologis untuk mengekspresikan diri (Papers4you.com, 2006).

Namun psikologi sosial tidak hanya terfokus pada konsumsi dan sikap masyarakat pada iklan, tetapi juga pada perilaku kelompok, individu umum dan sikap kolektif terhadap berbagai isu sosial termasuk perang, kekerasan kerja, dan kualitas hidup. Hal ini pada gilirannya akan menjelaskan bagaimana individu menghadapi stres, dan fokus pada konsekuensi psikologis stres. Meskipun gangguan psikologis mungkin dalam beberapa kasus menjadi akibat langsung dari stres sosial, perilaku menyimpang dalam masyarakat dapat dijelaskan dengan bantuan beberapa teori seperti teori subkultur oleh Parker, ketegangan struktural teori oleh Merton, atau teori kesesuaian. Psikologi sosial dengan demikian difokuskan pada menjelaskan berbagai masalah dari iklan dan perilaku konsumen sikap publik pada isu-isu sosial dan perilaku antisosial.


Sumber:
http://id.prmob.net/psikologi/sigmund-freud/ilmu-sosial-2418291.html

KESEHATAN MENTAL


KESEHATAN MENTAL
Pada kali ini saya akan membahas tentang kesehatan mental. Pasti kalian hanya tau dan mendengar sepintas saja tentang kesehatan mental itu, untuk kali. Ini saya akan membahas apa itu kesehatan mental. Dan mulai dari ...

1 . Konsep sehat & dimensi dari kesehatan mental
Konsep sehat , apa itu konsep sehat ?? Kalau menurut pribadi saya, konsep sehat adalah suatu struktur atau bisa dibilang seperti susunan yg mempunyai tujuan yg positif atau yg dibilang sehat, tetapi menurut salah satu tokoh dari aliran humanistik yaitu A.H. Maslow org yg memiliki konsep sehat berarti orang itu sudah mencapai pada tingkat ke 5 yaitu self - actualization atau aktualisasi diri. Biasanya org yang sudah mencapai pada tingkat aktualisasi diri pasti memiliki EQ , IQ , SQ yg stabil atau seimbang.
Dimensi - dimensi dari kesehatan mental:

  • A. Jasmani : jasmani kenapa dibutuhkan jasmani, karena jasmani merupakan salah satu dimensi kesehatan mental yg dimiliki setiap manusia. Jasmani yg sehat adalah jasmani yang kuat dan itu akan terlihat secara fisik.
  • B. Rohani : Rohani yang sehat akan terlihat dalam bertaatnya dalam beribadah dan juga selalu perpandangan ke maha yg kuasa
  • C. Emosi : kenapa dibutuhkan emosi dalam dimensi kesehatan mental? , karena emosi merupakan salah satu perasaan yg akan mengekspresikan secara show off / pamer kepada suatu lingkungan. Dan emosi juga mempengaruhi kesehatan mental itu sendiri, kenapa bisa dibilang mempengaruhi, karena dari situlah terlihat orang yg kesehatan mental emosinya baik atau tidak akan terlihat dari cara dia mengekspresikan suatu perasaannya dengan begitu akan diketahui.
  • D. Kognitif : kognitif merupakan dimensi yg dimiliki oleh kesehatan mental. Kognitif yang bagus / baik adalah kognitif yang memiliki IQ yang nilai dari IQ itu sendiri diatas rata - rata atau tetap. 
  • E. Spiritual : seseorang yang memiliki spiritual yang bagus akan terlihat pada pribadinya yang nyaman. Dan spiritual termasuk dalam dimensi kesehatan mental.


2. Sejarah perkembangan kesehatan mental
Berikut adalah sejarah perkembangan kesehatan mental. Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas pada ilmu sejarah kedokteran. Karena mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat.
- Pada tahun 1600an
Dukun asli amerika yg bersuku Indian yang biasa disebut healer,shaman orang yang mengalami gangguan mental dengan cara memanggil kekuatan supranatural dan menjalani ritual penebusan dan penyucian.
- Tahun 1692
Mendapatkan pengaruh para imigran dari eropa yang beragama nasrani, di amerika orang yang bergangguan mental saat itu sering dianggap terkena sihir atau dirasuki setan. Ini merupakan penjelasan yang diterima secara umum sehingga masyarakat takut dan membenci mereka yang dianggap memiliki kekuatan sihir. Bahkan pengadilan pernah memvonis 19 orang untuk digantung karena diamggap memiliki sihir. Padahal mereka yang dianggap memiliki kekuatan sihir kemungkinan besar mengalami gangguan mental sehingga hidup mereka tampak aneh dan berbeda bagi kebanyakan orang. Dan pada tahun ini gangguan mental tidak dianggap sebagai sakit.
- Tahun 1724
Pendeta cotton mather (1728) mematahkan takhayuk yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa itu sendiri. Pada saat ini benih - benih pendekatan secara medis mulai dikenalkan, yaitu dengan memberika penjelasan masalah kejiwaan sebagai akibat gangguan yang terjadi di tubuh.
- Tahun 1812
Benjamin rush (1813) menjadi salah satu pengacara mula - mula yang menangani masalah penanganan secara manusiawi untuk penyakit mental dengan publikasinya yang berjudul "medical inquiries and observation upon diseases of the mind". Ini merupakan buku teks psikiatri amerika yang pertama dan antara tahun 1830 - 1860 di inggris timbul optimisme dalam menangani pasien sakit jiwa (therapeutic Optimism).
- Tahun 1843
Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit, tapi hanya ada 2561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di amerika serikat.
- Tahun 1909
Sigmund Freud mengunjungi amerika dan mengajar psikoanalisa di universitas clark di worcester, massachusetts.
- Tahun 1910
Emil kraeplin pertama kali menggambarkan penyakit alzheimer. Dia juga mengembangkan alat tes yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya epilepsi.
- Tahun 1918
Asosiasi psikoanalisa amerika membuat aturan bahwa hanya orang yang telah lulus dari sekolah kedokteran dan menjalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon untuk pelatihan psikoanalisa.
- Tahun 1920
Komite nasional untuk mental higiene menghasilkan satu set model undang - undang komitmen yang dimasukkan kedalam aturan pada beberapa negara bagian. Komite juga membantu penelitian - penelitian yang berpengaruh pada kesehatan mental, penyakit mental, dan treatment yang membawa perubahan nyata pada sistem perawatan kesehatan mental.
- Tahun 1930
Psikiater mulai menginjeksikan insulin yang menyebabkan shock dan koma sementara sebagai suatu treatment untuk penderita schizofrenia.
- Tahun 1936
Agas Moniz mempublikasikan suatu laporan mengenai lobotomi frontal manusia yang pertama. Akibatnya antara tahun 1936 sampai pertengahan 1950-an, diperkirakan 20.000 prosedur pembedahan ini digunakan terhadap pasien mental amerika.
- Tahun 1947
Fountain house di new york city memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang yang mengalami sakit mental.
- Tahun 1950
Dibentuknya NAMH (national association of mental health) yang merupakan organisasi yang mempromosikan kesadaran akan kesehatan mental.
- Tahun 1979
NAMH berubah nama menjadi NMHA (national mental health association).
- Tahun 1990
NMHA memainkan peran penting dalam memunculkan disabilities act, yang berfungsi untuk melindungi warga amerika yang secara mental dan fisik disable.
- Tahun 1997
Peneliti menemukan kaitan genetik pada gangguan bipolar yang menunjukkan bahwa penyakit ini diturunkan. Sejarah kesehatan mental merupakan cerminan pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan perlakuan yang diberikan.

3. Pandangan Kesehatan Mental menurut Para Ahli
Berikut ini adalan pandangan setiap para ahli tentang kesehatan mental:
-Aliran Psikoanalisa
Sigmund Freud (1856-1939) merupakan pendiri psikoanalisa. Menurut freud pikiran-pikiran yang di repress atau di tekan, merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang. Pandangan Freud secara lengkap adalah sebagai berikut: 1) kesadaran dan ketidaksadaran, 2) insting dan kecemasan (represi, pembentukan reaksi, proyeksi, penempatan yang salah, rasionalisasi, supresi, sublimasi, kompensasi, regresi).
-Aliran behaviorisme
Para ahli behaviorisme termasuk Pavlov ingin meneliti psikologi secara objektif, yaitu yang dapat di observasi secara nyata, karena menurut mereka kesadaran tidak dapat di observasi secara langsung.
-Aliran Humanistik
-Menurut Allport
Beberapa segi dari pendekatan Allport terhadap kepribadian manusia adalah asli. Dia adalah ahli teori kepribadian pertama yang mempelajari orang-oang dewasa yang matang dan normal dan bukan orang-orang yang neurotis. Allport mempelajari individu-individu yang normal dan dengan demikian mengembangkan suatu teori yang hamper seluruhnya mengenai kepribadian yang sehat.
Allport mengemukakan teori tentang jurang antar kepribadian neurotis dan kepribadian yang sehat dan antara masa dewasa dan masa kanak-kanak. Dia tetap merupakan satu-satunya ahli teori kepribadian yang menegaskan bahwa tidak ada kesamaan fungsional antara kepribadian-kepribadian yang terganggu dan kepribadian-kepribadain yang sehat, bahwa mereka merupakan dua hal yang terpisah.
Karena itu kesehatan psikologis adalah melihat ke depan, tidak melihat ke belakang pandangannya ialah kepada apa yang diharapkan orang itu untuk menjadi, dan bukan kepada apa yang sudah terjadi dan tidak dapat diubah. Bagi saya, hal ini membuat pandangan Allport tentang kepribadian sangat penuh harapan dan optimistis. Masa depan dapat direncanakan dengan sadar dan sengaja serta dikerjakan untuk kemajuan individu. Akan tetapi suatu kehidupan yang berfokus pada masa lampau tidak begitu terbuka kepada perubahan.
Dalam teori Allport antisipasi-antisipasi adalah penting dalam membantu kita untuk menentukan siapa dan apakah kita ini, dalam membentuk identitas diri kita. Ini sama dengan pepatah, “Saya adalah apa yang saya perjuangkan untuk menjadi”. Segi lain dari pandangan Allport tentang kesehata psikologis, yang diulangi oleh ahli-ahliteori lain, adalah bahwa kepribadian-kepribadian sehat terarah kepada orang-orang lain. Karena sama sekali tidak terpusat pada diri sendiri, maka orang yang matang terlibat secara aktif dan terikat pada sesuatu atau seseorang di luar diri.
-Menurut Rogers
Gambaran Rogers tentang kepribadian yang sehat adalah sederhana, seperti halnya dengan criteria yang dikemukakan Allport. Tetapi saya berpendapat bahwa ada suatu daya tarik khusus dalam pandangan-pandangan Rogers yang menyebabkan pandangan-pandangan tersebut begitu popular, yakni panggialannya untuk menjadi “saya” dan “sekarang”. Tampaknya hal ini sangat menarik dalam suatu zaman yang menekankan pentingnya mengungkapkan diri sendiri dengan sepenuhnya dan terbuka, bebad dari rintangan-rintangan dan hambatan-hambatan.
Reaksi saya secara keseluruhan terhadap pendirian Rogers ialah ambivalen. Saya menemukan banyak hal yang menarik, tetapi saya juga menemukan sifat-sifat yang tak menyenagkan. Sulit untuk tidak menyetujui dalil bahwa orang-oarang yang sehat mampu mengatur sendiri perubahan dan pertumbuhan, menuntun kehidupan mereka yang tidak terhalang oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak.
Keseluruhan pandangan Rogers rupanya kekurangan (1) suatu perasaan yang tanggung jawab terhadap orang-orang lain, dan (2) tujuan-tujuan dan maksud-maksud yang jelas. Teori itu kelihatannya mengundang individu untuk berada dalam suatu situasi yang sama sekali egoistis dan perasaan puasakan diri sendiri.
-Menurut Fromm
Interpretasi Fromm tentang sumber dari kepribadian sehat menekankan pengaruh yang kuat dari kekuatan-kekuatan social, ekonomi, dan politik para individu. Lebih dari semua ahli teori lain, sebagai individu-individu dan sebagai suatu spesies dan pada tipe masyarakat tempat kita hidup. Pendirian Fromm memberikan harapan kepada kita semua. Perjuangan bawaan kesehatan psikologis sangat kuat. Tentu, kekuatan-kekuatan, psikologis yang menghambat produktivitas sangat kuat, membuktikan bahwa timbulnya gangguan-gangguandalam zaman kita meningkat. Tetapi, kesehatan, produktivitas, dan cinta kadang-kadang menang atas perlawanan yang keras tersebut.
Dalam pandangan Fromm, kita membutuhkan orang-orang lain untuk kesejahteraan kita sendiri. Kepribadian produktif dari Fromm, seperti kepribadian matang dari Allport, berpijak dengan kuat pada kenyataan. Orang-orang yang sehat mengamati dunia (orang-orang lain, peristiwa-peristiwa, dan diri mereka sendiri) secara objektif, tidak seperti orang yang berfungsi sepenuhnya dari Rogers.
Sifat laindaridari kerpribadian sehat Fromm yang saya rasa menarik adalah perjuangan kita untuk mengembnagkan dan memenuhi semua kemampuan kita. Orang-orang sehat dan produktif dengan kuat dan sepenuhnya menggunakan, merentangkan, memperpanjang, dan mengembangkan kualitas-kualitas mereka yang unik.
-Menurut Maslow
Maslow mengemukakan suatu teori yang optimis tentang kodrat manusia, yang menunjukkan bagaimana kita semua sanggup untuk menjadi. Orang yang mengaktulisasikan diri dari maslow adalah gambaran yang menyanjung-nyanjung tentang apa yang paling baik dalam manusia.
Saya tertarik kepada tingkat kebutuhan-kebutuhan dari Maslow, terutama pendiriannya bahwa kebutuhan fisiologis dan rasa aman harus dipuaskan sebelum kebutuhan-kebutuhan lain dapat timbul. Sehubung dengan kebutuhan akan cinta dan pengharapan, urutannya mungkin terbalik untuk orang-orang yang menilai pengharapan lebih daripada cinta, suatu kemungkinan yang diterima Maslow.
Tingkat-tingkat kebutuhan dari Maslow memberikantantangan untuk memanjat suatu anak tangga yang lebih tinggi dari pertumbuhan manusia dan memberikan harapan yang menggiurkan bahwa apabila kita beruntung dalam situasi-situasi kita, kita dapat memiliki suatu kesempatan untuk mencapai aktualisasi diri, atau sekurang-kurangnya mendekatinya.

Dan itulah penjelasan saya mengenai kesehatan mental dan juga sejarah tentang kesehatan mental. semoga bermanfaat untuk anda semua.
Terimakasih..


Sumber :
1. siswanto.(2007). kesehatan mental, yogyakarta:andi yogyakarta
2. Schultz,Duane. (2011). Psikologi pertumbuhan dan model - model kepribadian sehat, yogyakarta:kasnisius
3 sarwono, Sarlito.(2010).pengantar psikologi umum, jakarta:rajawali pers
4. http://abdisetiawan-abdee.blogspot.com/2012/03/kesehatan-mental.html

PENYESUAIAN DIRI DAN STRES


PENYESUAIAN DIRI DAN PERTUMBUHAN

1.Pengertian Penyesuaian Diri

Penyesuaian Diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery). Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.

Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain.
Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baiksecara moral, sosial, maupun emosional.

Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasitidakterjadi.

2. Konsep Penyesuaian Diri
Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai adaptasi dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip. Penyesuaian sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frustrasi-frustrasi secara efisien.

Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang memenuhi syarat. Penyesuaian sebagai penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positif memiliki responss emosional yang tepat pada setiap situasi. Disimpulkan bahwa penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya.

3. Pertumbuhan Personal
Pengertian pertumbuhan personal:
Manusia merupakan makhluk individu. Manusia itu disebut individu apabila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi mengikuti pola tingkah laku umum. Ini berarti bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas didalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang.Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian.

Dan hal itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor yang mempengaruhinya terutama lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat pun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.

Dengan adanya naluri yang dimiliki suatu individu, dimana ketika dapat melihat lingkungan di sekitarnya maka secara tidak langsung maka individu akan menilai hal-hal di sekitarnya apakah hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam masyarakat yang memiliki suatu norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang disiplin yang menerapkan aturan-aturan yang tegas maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang religius maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang religius. Terjadinya perubahan pada seseorang secara tahap demi tahap karena pengaruh baik dari pengalamaan atau empire luar melalui panca indra yang menimbulkan pengalaman dalam mengenai keadaan batin sendiri yang menimblkan reflexions.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, yaitu:
1. Faktor Biologis
Semua manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang utuh seperti kepala, tangan , kaki dan lainya. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada warisan biologis yang bersifat khusus. Artinya, setiap individu tidak semua ada yang memiliki karakteristik fisik yang sama.
2. Faktor Geografis
Setiap lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya. Sehingga menyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan mencimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga. Namun jika lingkungan fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan baik dengan individu yang lain, maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.
3. Faktor Kebudayaan Khusus
Perbedaan kebuadayaan dapat mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti semua individu yang ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama juga memiliki kepribadian yang sama juga. Dari semua faktor-faktor di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam membentuk perilaku individu. Menurutnya, faktor-faktor personallah yang menentukan perilaku manusia. Menurut Edward E. Sampson, terdapat perspektf yang berpusat pada persona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik berupa instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia. Secara garis besar terdapat dua faktor.

STRES

1.Pengertian Stres dan Efeknya

Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain. Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang.

Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri. Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.

Efek dari stress, yaitu :
Efek dari stress ini dapat bermacam-macam, mulai dari timbulnya uban, membahayakan kesehatan jantung, resiko stroke meningkat, meningkatkan resiko penyakit kronis, memicu gejala depresi,  dan juga tumor dan kanker. Ini terbukti dari berbagai penelitian mengenai stress, yang biasanya berakibat pada munculnya suatu hormon akibat stress tersebut. Diharapkan, di masa depan akan muncul obat-obatan untuk mengatasi berbagai efek dari stress ini. Apalagi stress yang kronis dapat mengakibatkan penurunan kadar protein p53. Sementara itu jenis protein ini dibutuhkan untuk mencegah munculnya kanker.


2. Faktor penyebab Stres

Lazarus dan Cohen (dalam Evans, 1982) mengemukakan bahwa terdapat tiga kelompok sumber yang menyebabkan stress, yaitu :
Fenomena catalismic, yaitu hal-hal atau kejadian-kejadian yang tiba-tiba, khas, dan kejadian yang menyangkut banyak orang seperti bencana alam, perang, banjir, dan sebagainya. Kejadian-kejadian yang memerlukan penyesuaian atau coping seperti pada fenomena catalismic meskipun berhubungan dengan orang yang lebih sedikit seperti respon seseorang terhadap penyakit atau kematian. Daily hassles, yaitu masalah yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut ketidakpuasan kerja atau masalah-masalah lingkungan seperti kesesakan atau kebisingan karena polusi.


3. Tipe-tipe Stres Psikologi


  • Tekanan:
  • Frustasi: Frustasi adalah situasi apapun dimana individu tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Kegagalan dan kehilangan adalah dua hal yang terutama membuat frustasi.
  • Konflik: Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
  • Kecemasan: Taylor (1953) dalam Tailor Manifest Anxiety Scale (TMAS) mengemukakan bahwa kecemasan merupakan suatu perasaan subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Carlson (1992:201) menjelaskan kecemasan sebagai rasa takut dan antisipasi terhadap nasib buruk dimasa yang akan datang, kecemasan ini memiliki bayangan bahwa ada bahaya yang mengancam dalam suatu aktivitas dan obyek, yang jika seseorang melihat gejala itu maka ia akan merasa cemas. Menurut (Darajat, 1996:27) kecemasan adalah suatu keadaan emosi yang sedang mengalami tekanan perasaan (Frustasi) atau pertentangan batin (konflik).


4. Mekanisme pertahanan diri dan Coping Stres
a. Menghilangkan stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada masalah. Menurut Lazarus (dalam Santrock, 2003 : 566) penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu:

  • Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
  • Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping)adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.

b.Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar (Santrock, 2003 : 567):

  • Strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung
  • Strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stres
Menurut Ebata & Moos, 1994 (dalam Santrock, 2003 : 567) individu yang menggunakan strategi mendekat untuk menghadapi stres adalah remaja yang berusia lebih tua, lebih aktif, menilai stresor utama yang muncul sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan dan sebagai suatu tantangan, dan memiliki sumber daya sosial yang dapat digunakan. Sedangkan, individu yang menggunakan strategi menghindar mudah merasa tertekan dan mengalami stres, memiliki stresor yang lebih kronis, dan telah mengalami kejadian-kejadian yang lebih negatif dalam kehidupannya selama tahun sebelumnya.

c. Berpikir positif dan self-efficacy
Menurut Bandura (dalam Santrock, 2003 : 567) self-efficacy adalah sikap optimis yang memberikan perasaan dapat mengendalikan lingkungannya sendiri. Menurut model realitas kenyataan dan khayalan diri yang dikemukan oleh Baumeister, individu dengan penyesuaian diri yang terbaik seringkali memiliki khayalan tentang diri mereka sendiri yang sedikit di atas rata-rata. Memiliki pendapat yang terlalu dibesar-besarkan mengenai diri sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai diri sendiri dapat mengakibatkan konsekuensi yang negatif. Bagi beberapa orang, melihat segala sesuatu dengan terlalu cermat dapat mengakibatkan merasa tertekan. Secara keseluruhan, dalam kebanyakan situasi, orientasi yang berdasar pada kenyataan atau khayalan yang sedikit di atas rata-rata dapat menjadi yang paling efektif (dalam Santrock, 2003 : 568).

d. Sistem dukungan
Menurut East, Gottlieb, O’Brien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar (dalam Santrock, 2003 : 568), keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain – terutama dengan keluarga dan teman – secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stres.

e. Berbagai strategi penanganan stres
Dalam penanganan stres dapat menggunakan berbagai strategi coping, karena stres juga disebabkan tidak hanya oleh satu faktor, melainkan oleh berbagai faktor (Susman, 1991 dalam Santrock, 2003 : 569).


5. Problem Solving terhadap Stres

Kita mengalahkan stress dengan cara menyelesaikan problem stressor (hal yang membuat stress itu). Misalnya, kita stress karena menderita suatu penyakit, maka kita menyelesaikan masalah dengan berobat sehingga penyakit kita bisa sembuh. Atau bisa juga dengan mengusahakan agar kita bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi (bila situasinya sendiri tidak bisa dirubah).


Sumber:
http://www.psychologymania.com/2012/05/pengertian-stress.html
http://tysar.wordpress.com/2009/06/24/pengertian-kecemasan/
http://yuliamasri-yuliamasri.blogspot.com/2010/05/makalah-kelompok-psikologi.html
http://belajarpsikologi.com/pengertian-penyesuaian-diri/
http://salvinirayyan-tugas.blogspot.com/2011/03/stress-dan-penyesuaian-diri.html
http://meltri-elia.blogspot.com/2011/04/stress-menurut-hans-selye.html
http://erriskareza.blogspot.com/2012/02/faktor-faktor-yang-menyebabkan-stress.html
http://mita.blog.unair.ac.id/2012/05/11/efek-stress/
http://health.detik.com/read/2013/02/05/152425/2161718/763/4/ketahuilah-ini-9-efek-mengerikan-dari-stres#bigpic
http://masimamgun.blogspot.com/2010/04/konsep-penyesuaian-diri.html

Rabu, 09 Januari 2013

Fenomena Tes Psikologi

Ayo Gunakan Internet Untuk Lahan Psikologi

Sebelumnya kita telah memahami manfaat internet yang sangat beragam dalam kehidupan kita. Karena memang pada dasarnya internet diciptakan untuk mempermudah pekerjaan dan menyelesaikan berbagai masalah di dalamnya. Tapi jangan salah, kegunaan internet juga banyak yang disalahgunakan. Seperti contoh maraknya penipuan, perkembangan game online yang berdampak negatif di kalangan anak-anak,  sampai beredarnya situs-situs porno yang dapat dengan free di-download ataupun di-upload.

Internet kaya akan fungsi dan manfaat. Dalam bidang ekonomi internet digunakan untuk mengembangkan bisnis serta tawar menawar barang/jasa. Dalam bidang sosial, internet berhasil menyatukan berbagai budaya yang dulunya mungkin tidak pernah saling berinteraksi. Sedangkan  dalam berbagai penelitian-penelitian, internet dapat digunakan untuk mencari data-data yang harus dikumpulkan untuk menyempurnakan bahan penelitian. Bahkan internet mempermudah globalisasi yang akan terus berkembang di dunia.

Hmmm tapi disini kita tidak akan menjelaskan secara detail manfaat internet dalam bidang-bidang di atas tadi. Internet juga menyediakan “berhektar-hektar” lahan untuk bidang psikologi. Di zaman yang serba canggih ini apapun bisa diciptakan dan dilakukan manusia secara praktis. Untuk lebih jelasnya, coba kita bandingkan perbedaan cara kerja psikolog beberapa tahun lalu dengan psikolog zaman sekarang.

Beberapa tahun atau berpuluh-puluh tahun yang lalu para psikolog menyalurkan keahlilan mereka di balik meja kerja dan berhadapan dengan sang klien dalam suatu ruangan kantor. Namun dewasa ini, beberapa psikolog dan para klien tidak usah bersusah payah bertatap muka dalam suatu ruangan kantor untuk sekedar berkonseling. Mereka dapat membuka situs psikologi dan mulai mengeluhkan keresahan mereka atau hanya membaca beberapa artikel yang dapat memberikan motivasi dalam dirinya.

Contohnya saja sepeti situs psikologizone.com, kita dapat memposting artikel, opini dan berita, menyatakan pendapat atau komentar, memberikan rating setiap posting yang ada, mengirimkan pesan ke anggota lain, serta menampilkan profil si penulis. Dengan desain yang cukup menarik dan lengkap, situs ini memberikan layanan yang memadai bagi para psikolog atau para pecinta psikologi. Berikut tampilan situs yang menarik ini:


Cukup lengkap kan teman-teman??
Banyak sekali fitur-fitur yang dapat kita nikmati dengan membuka situs tersebut. Selain berkonsultasi, kita juga bisa mendapatkan berbagai berita dan ilmu pengetahuan mengenai pasikologi. Baik dari psikologi klinis, psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, psikologi industri & organisasi, serta psikologi sosial.

Selain psikologizone.com yang menjadi lahan bagi para psikolog, ada juga situs psikologi lain seperti e-psikologi.com. E-psikologi.com memiliki tampilan yang terlihat lebih simpel dibandingkan dengan psikologi zone. Seperti dibawah ini:

Situs ini menyediakan beberapa tes psikologi yang dapat kita ikuti serta hasil dari tes yang telah kita lewati. Tes psikologi disini terdiri dari beberapa pertanyaan yang sesuai dengan topik atau tema yang telah tersedia dalam situs tersebut. Setelah kita isi semua pertanyaan yang sesuai dengan diri kita, kita dapat melihat hasil dari tes tersebut. Berikut tes dalam Kuis Perfeksionis yang tersedia dalam layanan ini.

dan hasilnya...

Nah dengan tersedianya layanan kuis seperti ini, kita dapat mengetahui baik dan buruknya sifat kita tanpa harus susah-susah bertatap muka dengan psikolog, kita juga tidak perlu membayar mahal untuk berkonsultasi dan memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Karena para psikolog yang ikut andil dalam penciptaan situs tersebut sudah mendapatkan penghasilannya sendiri dari pembuatan situs psikologi.

The internet’s so usefull for a good people only

Sumber:
http://khaayurika.blogspot.com/2011/11/ayoo-gunakan-internet-untuk-lahan.html